Catatan Perjalanan: Tentang sebuah Passion

Make-up di wajahnya buru-buru dibersihkan.

“Semenjak syuting, saya sudah sering berbohong” timpalnya sendiri, memecahkan fokus saya yang sedang asik membaca. Dia baru pulang dari taping untuk acara kuliner di salah satu stasiun televisi lokal. Saya terpaksa menutup buku, melihat dia butuh telinga untuk didengar gerutunya.

Tidak hanya berbohong soal penampilan tentang tak nyamannya memakai make-up, tapi juga soal rasa makanan yang memaksanya juga harus berbohong di depan kamera. Demi uang panai’ katanya.

“Hahaha” saya tertawa tersinggung, karena dia adalah seorang perempuan, yang sebernarnya tidak butuh uang panai’.

Namanya Mayang, sudah lama saya tahu namanya, cuma baru kali ini bisa mendengarnya bercerita panjang lebar.

Dia bercerita banyak soal makanan. Bahwa makanan seharusnya tak hanya enak tapi juga bisa menyehatkan. Bagaimana banyak hotel ataupun restoran mengklaim tentang healthy food, tapi pada kenyataanya masih menggunakan bahan kimia yang malah sebenarnya tidak sehat sama sekali. Dia mencontohkan minuman mojito yang harusnya menyehatkan tapi justru menggunakan sirup pengganti untuk rasa mint. Padahal menggunakan daun mint akan terasa lebih alami. Dia juga bercerita bagaimana cara menyembelih sapi sampai bisa mempengaruhui sehat dagingnya, yang akan menjadi bahan makanan.

Ya, dia sangat ahli untuk hal yang satu ini, makanan. Sampai beberapa teman sering bercanda di depannya. ‘Liat Mayang, jadi lapar.’

Dia kuliah di Jurusan Tata Boga tingkat akhir salah satu perguruan tinggi negeri. Membuat saya semakin percaya apa yang dia lakukan bukan main-main, bahkan sekadar cari materi atau mungkin ingin terkenal dengan menjadi seorang host culinary.

“Ini bisa menambah pengalaman saya, untuk bisa merasakan berbagai macam taste

Dia berkata, apa yang dikerjakan di depan kamera hanya menjadi seorang ahli mencicipi, atau istilah asingnya adalah gourmet.  Dari hotel ke hotel, dari restoran ke restoran dia mencicipi hasil masakan chef professional, tak hanya mencicipi tapi juga memberikan komentar hasil dari masakan chef tersebut. Serta tak lupa memberikan tips-tips tentang bagaimana menyajikan makanan kepada penontonnya.

IMG_20150515_161600

Chef Mayang sedang beraksi di depan kamera. Sumber foto; dokumentasi Mayang,

Hebatnya, walaupun sangat suka makan dan sangat akrab sekali dengan makanan tapi aneh bin ajaib dia tetap kurus. Sebuah anugerah yang tentu saja saya sangat yakin bikin semua iri setiap perempuan yang hobinya makan tapi takut gemuk.

Di luar itu, dia juga sedang membangun sebuah usaha yang dikerjakan bersama dua sahabatnya yaitu Vby dan Ain, yaitu Macora Kitchen sebuah café yang akan menghidangkan makanan enak dan tentunya menyehatkan.

“Konsepnya akan ada kebun mini yang akan mensuplai sendiri beberapa bumbu ataupun bahan makanannya” jelas Mayang.

Ini tertolong dengan kedua sahabatnya yang juga pandai berkebun. Menyulap lahan sempit menjadi kebun mini dengan berbagai tanaman yang akan menjadi sumber makanan atau bumbu yang tentunya lebih sehat dan segar tanpa adanya pestisda kimiawi berbahaya.

Mungkin inilah yang disebut passion.

Kata passion sendiri yang dipaparkan oleh wikipedia.com, saya terjemahkan adalah sebuah bentuk perasaan/emosi terhadap suatu hal yang membuat si pelaku begitu antusias sehingga mengerjakannya bukan merupakan beban ataupun suatu hal yang memberatkan bagi si pelaku. Kira-kira begitu.

Apa yang Mayang lakukan benar-benar bukan sekedar hal materi. Tapi kecintaannya terhadap makanan dan segala pengetahuan yang dia miliki membuatnya ingin bisa berbuat lebih tak sekadar menciptakan makanan yang enak, tapi juga tentu menyehatkan.

Iklan

5 responses to “Catatan Perjalanan: Tentang sebuah Passion

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s