Donor Darah dan Kecemasan-Kecemasan yang Tidak Perlu

Kemarin, senin (14/12/2015) pertama kalinya saya donor darah. Oke, saya tahu ini telat sekali. Bukan karena tidak mau donor darah, bukan. Tapi sekira dua tahun yang lalu saya ingin donor darah tapi ditolak mentah-mentah lantaran berat badan yang tak ideal. Nah, setelah itu saya sudah tidak pernah mengajukan diri lagi untuk mendonor.

Hingga tiba-tiba teman menelpon langsung, menanyakan apa golongan darah saya. Saya menjawab refleks A, teman saya langsung mengatakan, “tungguka’ dirumahmu” dan menutup teleponnya seketika itu juga, tanpa saya mengetahui duduk perkara apa yang sedaang terjadi.

Donor darah mungkin adalah satu hal yang paling mudah dilakukan bagi orang sehat. Namun ada syarat-syarat yang tentu harus dilewati sebelum dilakukan donor darah. Seleksi ini dilakukan untuk memastikan pendonor aman kesehatannya dan melindungi penerima (resipien) dari resiko penyakit menular atau efek merugikan lainnya.

Salah satu syarat donor adalah minimal berat badan yaitu 45 kg atau memiliki berat badan ideal, lah iya saya yang memiliki berat badan 2 tahun lalu di atas 45 Kg masih ditolak lantaran ketinggian saya yang di atas rata-rata, jadilah saya ‘tikus’ atau tinggi kurus yang tetap tidak diperbolehkan untuk donor darah. Untuk syarat-syarat lainnya boleh dicek disini.

Nah, karena baru pertama kali donor, ada kecemasan-kecemasan yang ternyata tidak perlu ditakutkan. Saya termasuk orang yang takut dengan jarum suntik atau bisa dikatakan tidak terbiasa dengan jarum. Jadinya malah cemas-cemas akan sakitnya ketika jarum itu menembus kulit.

Setengah jam kemudian, teman saya datang. Setelah menjelaskan apa yang terjadi. Dengan harap-harap cemas akhirnya saya menyetujui untuk menjadi pendonor darah. Darah ini akan digunakan oleh ayah teman saya yang sedang sakit dan akan dilakukan operasi esok harinya. Tidak ingin jatuh pingsan saat mendonor, saya mengajak teman untuk makan bakso dulu. “Biar kuat lihat jarum suntik.” Bercanda saya, padahal dalam hati serius.

Kami bergegas ke Unit Transfusi Darah Palang Merah Indonesia (UTD PMI) Kota Makassar yang terletak di Jalan Lanto Daeng Pasewang, ternyata beberapa rekan sudah menunggu untuk diambil juga darahnya. Suasana Kantor PMI saat itu lumayan sepi, tidak banyak aktifitas yang terjadi. Setelah bercanda bersama teman (lebih tepatnya nakut-nakutin) yang mengetahui ini adalah donor pertama saya, akhirnya saya masuk. Memasuki ruangan pertama kali saya cari adalah timbangan berat badan, memastikan berat saya sudah memenuhi syarat untuk donor darah. Jangan sampai sudah jauh-jauh datang malah ditolak lagi.

Berbagai pertanyaan disodorkan oleh petugas, seperti riwayat penyakit, jumlah jam tidur, konsumsi obat-obatan, dan lain sebagainya. Setelah itu baru dilakukan pemeriksaan awal, yaitu golongan darah, pemeriksaan kadar HB (Hemoglobin), tekanan darah, nadi, dan hal lain yang mungkin saya lupa. Selanjutnya baru saya dipersilakan masuk di ruang pengambilan darah. Karena takut jarum, tak sedikitpun saya menoleh untuk melihat proses pengambilan darah, alih-alih malah saya menonton untuk mengalihkan perhatian saya. Ternyata eh ternyata memang tak ada rasa sakit sedikitpun. Dari mulai proses pengambilan darah, yang awalnya semangat sekali (baca; deg-degan) hingga proses pengambilan berakhir tidak ada satupun kecemasan yang perlu ditakutkan. Semuanya berjalan dengan lancar dan tidak menghabiskan banyak waktu.

Donor darah begitu sangat mudah untuk dilakukan oleh orang sehat, dan tidak sulit menemukan tempat-tempat untuk donor darah, baik itu di kampus, di pusat keramaian, di sebuah acara, ataupun langsung di Kantor PMI terdekat. Selain itu kegiatan ini sangat bermanfaat baik itu untuk resipien dan tentu saja bagi pendonor itu sendiri.

Semoga tidak ada kata terlambat untuk berbuat kebaikan untuk sesama. Mari donor darah! Karena setetes darah sangat berharga.

Sumber Foto; Google

Sumber Gambar; Google


Referensi:
http://www.jevuska.com/2008/04/03/donor-darah/)

Iklan

One response to “Donor Darah dan Kecemasan-Kecemasan yang Tidak Perlu

  1. Ping-balik: Donor Darah dan Media Sosial | a s r i a d i·

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s