Cerita Di Balik Kebutuhan Darah : Dari UTD, Sosial Media Hingga Para Aktifis “Berdarah”

Malam itu kantor Unit Transfusi Darah (UTD) Dinas Kesehatan tampak ramai, orang-orang duduk tenang menanti giliran untuk dipanggil menjadi pendonor. Kantor yang dinaungi langsung oleh Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Selatan ini terletak tidak jauh dari Rumah Sakit Umum Pemerintah (RSUP) Dr. Wahidin Sudirohusodo. UTD ini menjadi satu-satunya tempat terdekat mendapatkan darah untuk kebutuhan medis seperti kehilangan darah dalam jumlah besar.

Meski terlihat ramai tapi suasana di dalam tetap tenang. Beberapa keluarga pasien terlihat harap-harap cemas, mereka berharap stok darah di UTD itu masih tersedia. Meski pada kenyataannya tidak selalu demikian.

DSC_0001.JPG

Suasana Kantor UTD DInas Kesehatan; 

Setiap rumah sakit besar memiliki bank darah sendiri, tempat penyimpanan stok darah yang harus dicari ketika ada pasien yang membutuhkan darah. Nah, ketika bank darah di Rumah Sakit tidak memiliki stok darah dengan golongan darah yang sama barulah mencari ke tempat yang lain. Oh iya, bahkan jika golongan darahnya pun sama, jika rhesus-nya berbeda (ada yang positif, ada yang negatif), transfusi darah tidak dapat dilakukan.

Salah satu hal yang harus dilakukan ketika stok darah di bank darah rumah sakit tempat pasien dirawat habis adalah mencari sendiri stok darah yang tersedia. Paling umum dilakukan adalah dengan mendatangi UTD sesuai dengan daerah rumah sakit yang bersangkutan, untuk mengambil kantong darah yang tersedia. Setiap kantong darah yang hendak diambil dikenakan BPPD (Biaya Penggantian Pengolahan Darah) sebesar Rp. 250,000. Tapi akan gratis jika pasien memiliki kartu BPJS.

Teknisnya, kita tinggal datang ke Unit Transfusi Darah yang terdekat dengan membawa surat pengantar dari bank darah rumah sakit yang bersangkutan. Sesampai di sana, langsung menuju Loket B yang merupakan bagian Distribusi Darah, bagian yang memang berfungsi sebagai hilir dari proses donor darah dari satu pihak ke pasien yang membutuhkan. Di sana, kita akan diminta menyerahkan surat pengantar tersebut kepada petugas untuk dicarikan stok darah tersedia yang cocok sesuai kebutuhan pasien. Prosesnya sendiri membutuhkan waktu sekitar 45 menit hingga satu jam, tergantung antrian di loket yang dibuka.

Lalu, bagaimana jika stok darah di Unit Transfusi Darah habis? Misalnya, jika pasien kebetulan bergolongan darah AB, yang notabene langka, baik dari jumlah populasi maupun pendonor potensial yang benar-benar menyumbangkan darahnya. Jawabannya adalah opsi kedua, yaitu dengan mencari sendiri orang yang mau mendonorkan darahnya, tentunya yang sehat dan memang memenuhi kriteria untuk menjadi pendonor. Pendonor ini bisa datang dari keluarga sendiri (yang paling mudah) ataupun kerabat terdekat.

Marwah seorang yang cukup aktif di beberapa komunitas, bercerita ketika salah seorang keluarganya membutuhkan transfusi darah. Yang sebelumnya UTD PMI mengatakan stok darah ada, menjadi panik ketika setelah dicek ternyata kosong. Akhirnya memutuskan untuk meminta bantuan di media sosial dengan meyebarkan informasi kebutuhan darah.

Butuh waktu sehari terkumpul sepuluh orang yang ingin meyumbangkan darahnya setelah Marwah menyebarkan informasi kebutuhan  donor darah di media sosial baik Twitter, dan beberapa group komunitas di Line.

Dari sepuluh orang yang mengkonfirmasi ingin donor darah, hanya satu orang yang dipastikan bisa mendonorkan darahnya. Beberapa yang lain tidak memenuhi syarat donor darah, dan ada juga yang ternyata tidak sesuai golongan darah yang dibutuhkan. Ke sepuluh pendonor itu benar-benar datang setelah mendapatkan informasi di media sosial.

“Tak satupun saya mengenalnya” Jelas Marwah

Ya, media sosial menjadi jawaban ketika tak satupun kerabat dekat tidak ada yang bisa mendonorkan darahnya. Media sosial yang sudah tidak bisa terlepaskan dari kehidupan sehari-hari memang telah banyak mengubah cara kita dalam berkehidupan. Sosial Media saat iniseakan sudah tidak terpisahkan dari keseharian, berdasarkan data Wearsocial.sg hingga tahun 2015, total pengguna aktif media sosial di Indonesia mencapai 72 juta pengguna aktif. Fakta tersebut ditandai dengan meningkatnya penggunaan Smartphone yang tak lagi hanya sekedar media komunikasi  berupa telfon atau sekedar mengirimkan pesan singkat. Kini alat komunikasipun k telah berubah fungsi menjadi sebuah alat untuk narsis hingga mengetahui lokasi orang terdekat kita berada dan ruang untuk mengeksisikan diri di dunia maya. Tentunya fenomena itu tak lepas dari peran perkembangan teknologi dan informasi

Di media sosial ada salah satu gerakan yang membantu masyarakat untuk mendapatkan pendonor. Lingkar Donor Makassar, adalah lembaga yang terbentuk sejak 2012 ini tergerak untuk membantu orang-orang yang membutuhkan darah. Masyarakat yang kurang mampu dan berasal dari daerah atau di luar  Makassar yang tidak punya banyak kenalan akan menjadi prioritas Lingkar Donor Makassar untuk dibantu.

Terbentuk di tahun 2012 silam, anak dari seorang mantan aktivis mahasiswa yang mengalami penyakit tumor dan membutuhkan golongan darah AB. Karena stok yang terbatas dari UTD Dinas Kesehatan membuat beberapa mahasiswa akhirnya langsung turun tangan membantu untuk menjadi pendonor. Karena saking banyaknya pendonor malah membuat stok darah menjadi berlebih dan akhirnya tersebar ke pasien-pasien lain.

Sejak saat itu ketika keluarga pasien yang membutuhkan darah maka petugas dari UTD Dinas Kesehatan akan menunjuk Lingkar Donor Makassar untuk membantu melakukan pertolongan mencarikan pendonor yang siap. Perhari bahkan bisa sampai 36 kantong permintaan kebutuhan darah.

Konsistensi Lembaga Lingkar Donor Makassar adalah untuk tidak memungut biaya seperserpun dari keluarga pasien. Semuanya murni dari asas kemanusiaan. Fadly menjelaskan, jangan sampai ketika menerima sumbangsih baik itu uang maupun makanan dari keluarga pasien akan membuat sifat ‘kebinatangan’ keluar.

“Satu gelaspun kami tak akan terima” Jelas Fadly

Ada cerita menarik tentang konsistensi Lingkar Donor Makassar karena tidak menerima imbalan sepeserpun dari keluarga pasien. Mereka bahkan pernah sampai ribut karena tidak menerima bayaran, karena saking ngototnya menolak untuk diberi uang. Fadly bertutur, pernah juga seorang ibu paruh baya mencium pipinya selagi dia tertidur di teras UTD Dinas Kesehatan karena rasa berterima kasihnya telah menolong.

Walaupun sangat begitu aktif di ranah media sosial dalam mencari pendonor, Lingkar Donor mengaku sosial media bukan menjadi tumpuan utama dalam mengharap datangnya pendonor. Komunikasi satu arah dan cenderung pasif di media sosial menjadi alasan utama sulitnya mendapatkan donor darah. Lingkar Donor Makassar lebih memilih menelpon langsung database pendonor reguler yang dimiliki. Database ini berisikan data pendonor siap yang lengkap dengan jenis golongan darahnya . Dengan menelpon langsung ke database, Lingkar Donor Makassar tidak perlu menunggu lama untuk mendapatkan jawaban bisa atau tidaknya calon pendonor untuk mendonorkan darahnya.

Berbeda dengan Blood For Life yang hingga kini masih tetap fokus di media sosial. Bahkan di media sosial twitter Blood For Life ada istilah Instalasi Gawat Darurat (IGD) maya yaitu orang-orang yang ditugasi menjadi admin untuk memantau permintaan darah dan menyebarkan informasi kebutuhan darah melalui dunia maya.

“Yang membedakan kita, kita memang lebih intens di lapangan” tegas Fadly Kaimuddin saat menjelaskan tentang Lingkar Donor Darah Makassar.

Dia juga menambahkan, Lingkar Donor Makassar yang masih merupakan sayap organisasi Lingkar Mahasiswa Islam Untuk Perubahan (LISAN) ini bahkan telah dipercaya langsung UTD Dinas Kesehatan Provinisi Sulawesi Selatan untuk diberikan ruangan khusus sebagai wadah sekretariatnya.

Pengorbanan para aktivis donor darah ini adalah aksi kemanusiaan yang sesungguhnya. Waktu, tenaga dan pikiran yang mereka keluarkan tidak bisa dinilai oleh materi sedikitpun. Menghubungkan orang yang membutuhkan darah dengan pendonor telah banyak menyelamatkan nyawa. Mereka penyelamat kehidupan.

Iklan

4 responses to “Cerita Di Balik Kebutuhan Darah : Dari UTD, Sosial Media Hingga Para Aktifis “Berdarah”

  1. Boleh juga tulisannya. Hanya ada 1 pertanyaan dari saya Sejauh mana penulis mengetaui tentang Komunitas Blood For Life Indonesia. Apakah hanya sebatas medsos yang haya bisanya share kebutuan darah saja ? .

    • Sebelumnya terima kasih. Oh iya untuk Blood For Life saya hanya melihat dan mengamati dari akun media sosial di Twitter @Blood4LifeID. Mohon kalau ada koreksi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s