Cerita Jejak Langkah Kaki dari Pulau Seberang Makassar

DSC02785Pagi masih terlalu hangat, matahari baru 2 jam bergerak dari peraduanya, hari itu Minggu (20/2) dermaga Kayu Bangkoa ramai oleh orang-orang yang akan berlibur ke pulau-pulau. Dermaga ini merupakan salah satu pintu masuk dari dan ke pulau-pulau sekitar Makassar. Puluhan perahu tertambat di bibir Dermaga Kayu Bangkoa yang siap untuk melayani penumpang antar pulau.  Perahu kecil berbahan serat fiber yang bisa memuat hingga 10 penumpang ditambah satu nahkoda ini biasa disebut sekoci untuk mereka yang kesehariannya sibuk bekerja melayani transportasi laut di Dermaga Kayu Bangkoa. Sedangkan perahu yang berukuran dau kali lebih besar dari sekoci   melayani penumppang untuk tujuan pulau yang jaraknya lumayan jauh dari Makassar di antaranya Pulau Barrang Lompo, Pulau Barrang Ca’di hingga Pulau Kodingareng Lompo. Sayangnya, perahu besar ini hanya beroperasi sekali saja dalam sehari untuk mengantar penduduk pulau ataupun wisatwan yang ingin berkunjung. Begitu yang diceritakan oleh Sandi, salah seorang yang kesehariannya bekerja menjajakan jasa transportasi di Dermaga Kayu Bangkoa.

Kali ini saya memlih untuk tidak mengunjungi Pulau Samalona ataupun Pulau Kodingareng Keke yang memang menjadi tujuan favorit wisatawan untuk berlibur. Hari itu saya memilih Pulau Lae-lae yang sepandangan mata saya bisa terlihat dari dermaga. Ini kali pertamanya saya menginjakkan kaki di pulau dengan luas 6,5 Hektar, setelah kurang lebih 20 tahun lamanya saya  menetap di Makassar tak sekalipun saya mengunjungi Pulau Lae-Lae sebelumnya. Padahal letak Pulau Lae-Lae hanya berkisar sepuluh menit perjalanan laut.  Merupakan salah satu pulau yang paling dekat dari segi jarak di Kota Makassar selain Pulau Lae-lae Caddi dan Pulau Khayangan.

Pulau Lae-lae yang berpenduduk lebih dari 420 kepala keluarga ini adalah satu dari puluhan pulau   yang masih berada digugusan kepulauan spermonde. Menginjakkan kaki pertama kalinya di pasir pantai  membawa ingatan saya terbang ke beberapa tahun silam.Ingatan masa kecil saya. Rumah-rumah berderet sederhana, ibu-ibu berkumpul dan bergosip ria, anak-anak asik bermain kelereng dan ikan cupang,dan para bapak-bapak sibuk bekerja. Ingatan masa lampau yang sederahana yang mungkin sangat jarang saya bisa ulangi di Makassar.

Berjalan mengelilingi Pulau Lae-lae pada jalan setapak yang hanya mempunyai lebar hanya 2-3 meter memiliki keasyikan tersendiri. Melihat bagaimana rumah-rumah berdempetan, namun masyarakat lebih banyak beraktifitas di luar rumah. Hampir setiap 5 meter berdiri bale-bale, baik digunakan sebagai tempat berkumpul, makan, hingga tidur siang.

”Listrik disini cuma menyala dari jam 6 sore sampai jam 6 pagi” Tutur Bapak yang menjelaskan minuman yang saya beli ternyata tidak dingin. Tidak hanya warga yang terlihat banyak beraktivitas di luar rumah, bahkan kambing banyak berlalu lalang disini. Sunggguh satu pemandangan yang sangat jarang di pulau-pulau yang berpasir dan lumayan kering tumbuhan rumput. Setiap memasuki jalan setapak, pasti ada 2 hingga 3 kambing bersilewaran. Kambing-kambing ini hidup bebas berkeliaran, entah makan apa.

Setelah Lelah berkeliling kurang lebih 3 jam, akhirnya saya  berhenti sejenak, dan melepas penat di pantai. Jangan salah, disini juga anda bisa menikmati keindahan pantai. Di sebelah utara Pulau Lae-lae terdapat sebuah pantai yang memanjang mengikuti tanggul pemecah ombak yang dibuat di masa Kolonial Belanda.

Menikmati matahari terbenam, atau sekadar duduk santai menikmati deburan ombak sambil menikmati secangkir kopi. Mengahadap ke timur anda bisa melihat Kota Makassar, dan bangunan-bangunan  tinggi yang mulai banyak menjulang.

Nama pantainya adalah Pantai Bob. Di Pantai ini saya bertemu Safar yang bercerita banyak tentang Pantai Bob. Pantai yang diberi nama sendiri oleh Om Bob. Dia (Om Bob) menyulap dibagian ujung pantai sebagai rumah-rumah pohon. Tempat dia bisa bersantai bersama teman-temannya sambil bermain musik reggae. Sayangnya, tempatnya sudah tidak terawat sementara Om Bob sedang berkelana dengan perahu sandeqnya. Om Bob yang juga biasa dipanggil Anton Samalona, memiliki rumah di Pulau Lae-lae ini juga telah mempunyai seorang anak.

“Umurnya sekitar 40 atau 50 puluhan, tidak muda tidak juga tua.” Terang, Safar menceritakan Om Bob yang semakin saya penasaran dengan pria yang menyukai musik regge tersebut.

Selain Pantai Bob, Safar juga banyak menceritakan sisi lain Pulau Lae-Lae. Sebagai masyarakat pesisir, penduduk Pulau Lae-lae banyak menggantungkan hidupnya dari laut. Sebagai nelayan ataupun sebagai penjaja jasa transportasi ke pulau-pulau . Baik di Dermaga Kayu Bangkoa ataupun Dermaga Popsa semua pemilik perahu berasal dari Pulau Lae-lae. Tidak hanya nahkodanya, perahunya-pun semua berasal dari Pulau Lae-lae. Juga, tidak sedikit masayakat Pulau Lae-lae yang bekerja sebagai pembuat perahu. Ketika anda memasuki Pulau Lae-lae, di sekitaran pintu gerbang banyak terdapat perahu-perahu yang sedang dibuat atau diperbaiki. Ada dua jenis perahu yang sering dibuat, yaitu perahu kecil yang biasa disebut sekoci sebagai perahu penumpang dan perahu lepa-lepa untuk nelayan menangkap ikan.

Menurut Safar, hanya orang tua dan anak-anak yang banyak tinggal di Pulau Lae-lae, anak mudanya banyak merantau. Bangunan sekolah hanya terdapat SD dan SMP, sedangkan SMA masih sementara dibangun.

“Jadi setelah SMP, kalau mau melanjutkan sekolah harus menyebrang ke kota” tambah safar sambil sesekali terseyum menceritakan pulau tempat dia besar.

Safar juga menceritakan tentang terowongan yang dulunya konon tembus hingga ke Benteng Fort Rotterdam. Terowongan yang dibangun di masa penjajahan ini membelah Pulau Lae-lae sudah tertimbun oleh rumah-rumah warga, dan tidak banyak meninggalkan jejak selain cerita-cerita yang simpang siur.

DSC02790

Safar, seorang pemuda Pulau Lae-lae tersenyum saat bercerita tentang pulau tempat tinggalnya.

DSC02795

Secangkir kopi dan pemandangan laut.

Akhir dari perjalanan saya di Pulau Lae-lae, setelah mendengarkan cerita-cerita dari Safar saya memesan secangkir kopi pada Daeng Singara pemilik dari bale-bale lalu menikmati indahnya laut dan suara ombak. Sebuah perpaduan ketenangan yang tentu mendamaikan hati. Selalu ada cerita menarik yang ada sekitar kita, bahkan di pulau yang letaknya sangat dekat dari Makassar ini menyimpan banyak cerita dan keindahan.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s