Untuk Pulang

IMG_3785.jpg

Sembunyi dari teriknya matahari.

Manusia adalah bangsa pejalan, pikirku. Dari ratusan tahun yang lalu, mulai dari nenek moyang hingga sekarang, kita masih berjalan. Sekadar berjalan tak tentu arah, atau menjelajahi tempat yang belum sama sekali terjamah. Bahkan ketika tidak sedang berjalan, namun ketika imajinasi melanglang buana ke segala penjuru hingga berpikir ke masa depan, kita tetap berjalan menyusuri alam pikiran. 

Terik matahari dan deru ombak yang menerpa wajahku menyadarkan lamunan saya. Sudah sejam perahu yang membawa saya bersama kelima temanku kembali belum juga sampai. Liburan kali ini memang lumayan lebih jauh dari biasanya. Terletak tiga jam perjalanan darat dari Kota Makassar hingga ke dermaga tempat penyebrangan. Setelah itu, tidak kurang dari dua jam perjalanan laut harus dilalui. Pulau Bana-banawang yang terletak di gugusan kepulauan spermonde Kabupaten Pangkep begitu mempesona. Pasir putih terbentang mengelilingi pulau ini. Pohon-pohon rindang tumbuh subur. Pulau ini salah satu pulau terluar dari kepulauan spermonde, tidak salah kalau tempat ini dijadikan tempat istirahat para nelayan. Sebelum melaut jauh, biasanya para nelayan singgah dahulu, atau sebaliknya. Sekadar istirahat atau menunggu pagi, menanti ombak kembali tenang lalu melanjutkan perjalanan.

Berbekal tiga tenda dan bekal secukupnya kami menghabiskan akhir pekan. Jauh dari hiruk pikuk kesibukan kota. Hanya ada gemerlap bintang-bintang. Tidak ada suara sombongnya klakson kendaraan. Hanya ada suara ombak yang sayup-sayup terdengar di malam hari. Selesai makan malam, teman saya membuka diskusi dengan sebuah pertanyaan.

“Mengapa orang-orang menghabiskan banyak uang, hanya untuk bepergian jauh?”

Lampu-lampu dari kejauhan, terlihat samar. Saya tertegun. Terlalu naif mengukur sesuatu hanya dengan uang. Beberapa tahun terakhir saya sering melakukan perjalanan, mulai dari naik gunung, menyusuri pantai indah, atau hanya menyambangi kota-kota besar. Berjalan, bepergian, berlibur, merantau atau apapun namanya sebenarnya bukan pekerjaan yang menyenangkan. Melelahkan sudah pasti,mengorbankan tidak sedikit materi dan waktu. Resiko yang besar bahkan sampai ada yang meninggal dalam perjalanan juga tidak sedikit. Lalu apa tujuan semua ini?

Semakin malam, obrolan semakin ngawur. Tidak satupun percakapan teman-teman mendekati jawaban. Keindahan malam itu, akhirnya di abadikan melalui potret. Lagu-lagu yang mengalun indah mengantar kami istirahat. Kami berjanji untuk bangun lebih awal untuk menyaksikan matahari terbit.

Pukul sepuluh pagi, akhirnya nelayan yang mengantar kami tiba menjemput. Tentu setelah menikmati birunya laut dan cantiknya terumbu karang. Suara mesin perahu bermotor memecah keheningan laut. Ombak terhambur, menyisahkan ekor yang begitu panjang dibalik perahu. Perjalanan ini berakhir. Saya melamun tak tentu, tentang sebuah perjalanan.

Lalu tersadar; Bepergian adalah untuk pulang. Sejauh apapun. Sehebat apapun. Menceritakan kembali, atau sekadar menjadi kenangan di masa tua.


Tulisan ini diikutkan dalam Lomba Menulis Cerita Travel Mate yang diselenggarakan oleh National Geographic. 

Iklan

2 responses to “Untuk Pulang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s