Ramadan Hari Pertama; tentang perantau.

“Singa jika tak tinggalkan sarang, tak akan dapat mangsa. Anak panah jika tak tinggalkan busur, tak akan kena sasaran.” Imam Asy-Syafii

Sore menjelang Maghrib, Makassar begitu romantis. Hujan baru saja reda kala itu. Jalanan basah, dedauanan basah dan langit terlihat mempesona. Sayup-sayup adzan maghrib terdengar begitu menyejukkan. Setelah melepas dahaga berbuka puasa dengan kolak pisang, saya menyusuri jalanan ke masjid.

Tidak ada perbedaan yang cukup signifikan bulan Ramadan kali ini dengan beberapa tahun yang lalu. Saya, alhamdulillah masih diberi kesempatan untuk sahur dan buka puasa pertama bersama keluarga. Walaupun tanpa kedua kakak saya yang memang sudah tidak tinggal di rumah karena juga telah berkeluarga. Semuanya masih terasa sama.

Dari dulu, saya ingin sekali merantau. Kuliah di seberang pulau yang kelihatannya kesempatan akan lebih terbuka di sana, tapi sayangnya saya tak diizinkan. Sejauh saya merantau adalah ketika masa di ‘putih abu-abu’. Masa praktek kerja lapangan yang saya habiskan selama tiga bulan di Kota Malang. Tiga bulan yang juga bersinggungan dengan bulan Ramadan. Di mana sebulan penuh puasa itu saya habiskan di Kota Malang, yang ada malah lebih banyak sibuk jalan-jalan, kuliner, dan hal seru lainnya.

DSCN4113

Di suatu waktu, antah berantah.

Sebenarnya tidak ada yang begitu spesial, kadang rindu menghampiri, tapi apalah saya yang hanya tiga bulan merantau dibandingkan dengan beberapa teman yang bahkan telah beberapa tahun jauh dari keluarga. Dari menuntut pendidikan hingga telah bekerja dan tnggal memiliki keluarga baru.

Saya sebenarnya cukup kagum melihat beberapa teman perantau. Tidak mudah tentunya melakukan hal jauh dari keluarga, jauh dari ‘rumah’. Melakukan hal serba mandiri dan tak jarang sendiri. Tantangan yang datang jauh besar dibanding yang tinggal bersama keluarga. Tapi justru saya melihat disinilah letak peluang teman-teman perantau. Berada di luar zona nyaman, memiliki tantangan tersendiri, dan kadangkala tantangan inilah membuat atau menjadi motivasi besar untuk maju.

Tentang merantau, bahkan kutipan-kutipan bijak selalu menganjurkan, merantaulah. Tinggalkan negerimu, jelajahi negerimu. Dari Rasulullah SAW yang meninggalkan Mekkah berhijrah ke Madinah, hingga salah seorang bapak pendiri bangsa, Tan Malaka yang sampai ke negeri Belanda untuk mengenyam pendidikan. Merantau adalah salah satu cara untuk mengenali diri sendiri, berinteraksi dengan banyak orang baru, membuka wawasan, dan tentu akan menjadi pengalaman yang sangat berharga.

Pertanyaannya adalah sampai kapan merantau? Menjelang buka puasa tadi, saya melihat beberapa video Pandji Pragiwaksono yang mewawancarai Warga Negara Indonesia (WNI) yang telah lama merantau di luar negeri. Tajuk video ‘Kapan Pulang?’ itu, mewawancarai alasan-alasan mengapa setelah lama merantau belum juga pulang. Secara garis besar ada beberapa alasan, dari telah nyaman, kesempatan yang lebih terbuka hingga menunggu waktu yang tepat.

Memang tidak ada salahnya, bahkan sepertinya sudah menjadi kewajaran. Menurutku salah satu alasan terbesar orang merantau adalah kesempatan. Memiliki kesempatan yang lebih baik hingga telah menjadi kenyamanan tinggal di negeri orang itu sah-sah saja. Kembali pulang belum tentu memiliki kesempatan yang sama. Saya seyakin-yakinnya semua perantau ingin pulang. Terlepas itu menunggu waktu yang tepat, atau kesempatan yang lebih baik kembali lagi ke niat awalnya untuk merantau.

Saya berharap dalam waktu dekat ini bisa merantau. Juga merasakan apa yang teman-teman rasakan tentang kehadiran perasaan rindu oleh jarak. Semoga dengan kehadiran jarak, bisa menjadi bara semangat untuk lebih maju.

Semangat puasa, para perantau!

Iklan

3 responses to “Ramadan Hari Pertama; tentang perantau.

  1. Keren dandi!
    Kebalikan dari tulisanku. Hehehe… saya mau skali k pulang ke ‘rumah’, tapi selain ndak ada libur, mahal sekali juga tiket. Hiks.

  2. Wah, ini tulisannya saya banget. Mau sekali merantau dan berharap merantau dalam waktu dekat. Suka kalimat ini:
    Saya berharap dalam waktu dekat ini bisa merantau. Juga merasakan apa yang teman-teman rasakan tentang kehadiran perasaan rindu oleh jarak. Semoga dengan kehadiran jarak, bisa menjadi bara semangat untuk lebih maju.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s